New

Oaaaaahhhmmm…pagi ini kenapa mata saya susah sekali diajak melek? Padahal sudah menjadi kebiasaan saya setiap Ramadhan, untuk bangun sekitar jam 1, kemudian langsung mengambil air wudhu, sholat tahajud, wiridan, tadarus ringan, membaca syair-syair al-barzanji, ngaji kitab kuning atau sholawat menyampaikan salam kepada junjungan tertinggi saya Muhammad Rasulullah, sambil mengusir kantuk menunggu istri/ibu saya menyelesaikan hidangan makan sahur. Anda percaya saya melakukan itu semua?:D

Well, you don’t have to trust anything I’ve said (lho kok berubah jadi bahasa monyet cinta laura???) Tetapi Ramadhan selalu datang dengan membawa atmosfer yang transendental. Bahkan kyai desertir seperti saya pun, akan menyerah dan tergoda untuk melarutkan diri dalam gairah Ramadhan yang agung, seperti anak kecil yang melihat kolam maha bening setelah 11 bulan bermain dalam lumpur lapindo yang kotor.

Puasa bukan sekedar memindahkan jam sarapan pagi kita lebih awal beberapa jam, untuk kemudian bertahan dengan air ludah dan sesekali air wudhu yang disengajakan tertelan saat kita aka mengerjakan sholat. Tentu bukan puasa seperti itu yang dimaksud agama. Sebab jika urgensi puasa di bulan Ramadhan hanya untuk kuat-kuatan menahan lapar, saudara-saudara kita banyak yang sudah sangat terlatih untuk melakukannya, bahkan ada yang mampu menahan lapar sampai mati sekalipun. Jadi menurut saya, tidak ada kepentingannya Tuhan meminta kita untuk menyambut Ramadhan hanya untuk berlapar-lapar jika 11 bulan sebelumnya ada yang lebih hebat tingkat kelaparannya. Ramadhan tidak akan menjadi istimewa lagi.

Atau jika kemudian ada yang bilang hikmah Ramadhan adalah pengendalian hawa nafsu, peng-elimiran hubud dunya (kecintaan terhadap dunia), peningkatan sensibilitas sosial, peleburan segala macam dosa, ampunan yang seluas-luasnya dari Allah yang Maha Besat, tentang turunnya sumber ilmu pengetahuan, tentang malam dengan pahala 1000 bulan, tentang siksa kubur yang dihentikan, atau tentang setan-setan yang dirantai bahkan kalau perlu dibinasakan sekalipun, seberapa besar itu semua memberi implikasi demi peningkatan kualitas kemanusiaan kita.

Ada yang bilang manusia adalah khalifah/pemimpin dimuka bumi, dan semua yang berotak waras pasti setuju dengan apa yang disampaikan oleh kitab suci itu. No Argue!!! Entah jika suatu saat kita yang benar-benar merasa lelah dan buntu mengadakan referendum untuk kemudian menyerahkan amanat kekhalifahan dan rela dipimpin kambing, kerbau, anjing, atau monyet paling dekil sekalipun menggantikan peran untuk memakmurkan bumi yang sudah tidak mampu lagi kita laksanakan. Walaupun sebenarnya kepribadian-kepribadian binatang yang saya sebutkan tadi sudah banyak kita temui meskipun masih terbungkus rapi dalam daging dan kulit manusia, berhias jas dan dasi mereka.

Puasa bukan tentang obrak-obrak pelacur liar, yang kita tak tahu berapa jumlah anak yang harus dia beri makan, yang kita tak pernah tahu betapa perihnya kemuliaannya dijual oleh suami atau ayah sendiri? Dimana kita saat dulu mereka sekedar butuh sekilo dua kilo beras? Kenapa kita sekarang ribut mengeraskan speaker masjid sementara persis disebelah rumah Allah itu seorang janda tua miskin tak punya anak mati karena tak ada satupun isi dapurnya bisa dimakan? Kenapa kita masih ribut soal Qunut jika semakin banyak anak-anak kita teler di mulut-mulut gang? Kenapa kau sibuk memperbincangkan fiqih untuk membersihkan kelamin dan duburmu, dibanding mengurusi generasi yatim piatu yang tak cuma kehilangan ayah dan ibu mereka, tetapi juga Tuhan? Kenapa cuk kenapa???

Tuhan lebih dekat dari urat leher kita. Begitukah??? Hanya Tuhan dan kita saja yang tahu …

(bersambung)

Leave a Reply